Jumat, 29 Oktober 2010

Bob Sadino

            Pengusaha Berdinas Celana Pendek

            Pria berpakaian ''dinas'' celana pendek jin dan kemeja lengan pendek
            yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok
            entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan
            bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal
            Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan
            Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

            Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang
            kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan
            Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya,
            mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup
            mapan dengan gaji yang cukup besar.

            Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi
            karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja
            untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir
            taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli
            bangunan dengan upah harian Rp 100.

            Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan
            depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah
            muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam
            ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup,
            tentu manusia pun juga bisa.

            Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual
            beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan
            istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena
            mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan
            Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

            Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing
            sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki
            pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi
            feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut
            perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem
            Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan
            celana pendek.

            Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis,
            khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk
            konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin
            kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

            Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan
            demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia
            dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor
            satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap
            peluang.

            Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana
            tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang
            adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak
            orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak
            segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

            Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia
            langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan
            menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan
            kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu
            menjadi trampil dan profesional.
            Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan
            bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang
            melebihi orang lain.

            Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan
            saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih
            simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan
            pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia
            selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

            Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota
            keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama,
            semuanya punya fungsi dan kekuatan.

            Anak Guru

            Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa
            dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di
            Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya
            punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang
            jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia
            ketika Bob berusia 19.

            Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun
            1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang,
            Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar
            sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob
            sendiri sopirnya.

            Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali,
            tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ''Hati saya
            ikut hancur,'' kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas
            bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami
            Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa
            menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ''Sayalah kepala
            keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.''

            Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras
            dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia
            berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha
            perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik
            pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ''warung'' shaslik di
            Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan,
            rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging
            segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

            ''Saya hidup dari fantasi,'' kata Bob menggambarkan keberhasilan
            usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil
            fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ''Di mana
            pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,'' kata Bob.

            Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di
            luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak
            ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang
            macam-macam.

            Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik
            dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama
            istri dan dua anaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar